Pada Selasa (2/6/2026), pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai kekhawatiran seiring dengan berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Data terbaru menunjukkan bahwa kurs jual Dolar AS di beberapa bank besar telah mencapai kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900. Bahkan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat kurs jual pada level Rp 17.990, hanya selangkah lagi dari angka Rp 18.000 yang sering dianggap sebagai batas psikologis penting.
Pelemahan ini bukan tanpa sebab. Gejolak ekonomi global, terutama terkait dengan dinamika geopolitik, disebut-sebut menjadi pemicu utama. Ketidakpastian di pasar internasional, seperti perkembangan hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, menciptakan sentimen kehati-hatian di kalangan investor. Dolar AS, sebagai mata uang safe haven, cenderung menguat di tengah kondisi tersebut, memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Bagaimana Kurs Dolar AS di Bank-Bank Besar?
Berikut adalah rangkuman kurs jual dan beli Dolar AS di empat bank besar di Indonesia per 2 Juni 2026:
Bank Central Asia (BCA)
| Jenis Kurs | Nilai (Rp) |
|---|---|
| e-Rate Beli | 17.800 |
| e-Rate Jual | 17.900 |
| TT Counter Beli | 17.690 |
| TT Counter Jual | 17.940 |
Bank Negara Indonesia (BNI)
| Jenis Kurs | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Special Rates Beli | 17.795 |
| Special Rates Jual | 17.895 |
| TT Counter Beli | 17.625 |
| TT Counter Jual | 16.925 |
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
| Jenis Kurs | Nilai (Rp) |
|---|---|
| e-Rate Beli | 17.788 |
| e-Rate Jual | 17.990 |
| TT Counter Beli | 17.740 |
| TT Counter Jual | 18.040 |
Bank Mandiri
| Jenis Kurs | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Special Rate Beli | 17.795 |
| Special Rate Jual | 17.835 |
| TT Counter Beli | 17.625 |
| TT Counter Jual | 17.925 |
Optimisme di Tengah Tantangan
Meskipun Rupiah menghadapi tekanan, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa pelemahan ini bersifat sementara. Ia memprediksi bahwa tekanan terhadap Rupiah akan berangsur berkurang dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan membaiknya situasi geopolitik global. Purbaya menyoroti perkembangan positif dalam hubungan AS, Iran, dan Israel sebagai faktor yang dapat meningkatkan stabilitas global dan pada gilirannya, mendukung penguatan fundamental ekonomi Indonesia.
Pemerintah, melalui koordinasi intensif dengan Bank Indonesia, terus berupaya menjaga stabilitas sektor keuangan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan pasar obligasi domestik tetap kondusif dan meminimalkan kerugian bagi investor, terutama investor asing, akibat fluktuasi pasar. Keyakinan pasar terhadap Rupiah diharapkan akan kembali menguat seiring dengan prospek ekonomi global yang membaik dan terjaganya stabilitas sistem keuangan nasional.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, penting untuk terus memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan memahami faktor-faktor yang memengaruhinya. Meskipun ada tantangan, upaya pemerintah dan bank sentral diharapkan dapat menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap mata uang domestik.